KU DEKAP CINTAKU HINGGA KE SYURGA

Jika Cinta sudah melekร t. Hati ingin slalu dekat. Karena Cintaku padamu Lebih Hebat.

Ust.Arifin ilham : Berbeda Tetapi Tetap Sayang

SubhanAllah walhamdulillah kanda tercinta fillah ustadz DR Kholid Basalam adalah seorang mujahid da'wah yg juga seorang pengusaha sukses dg PT Ajwad -nya.

Sebuah pesan tentang ilmu dari Imam Syafi'i

Salah satu Imam Mahzab, yang ajarannya banyak digunakan muslim Indonesia. Dan beliau berpesan.

Jumat, 16 Juni 2017

7 KEISTIMEWAAN LAILATUL QADAR

Berikut keistimewaan Lailatul Qadar :
1- Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al Qur’an
Ibnu ‘Abbas dan selainnya mengatakan, “Allah menurunkan Al Qur’an secara utuh sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah yang ada di langit dunia. Kemudian Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- tersebut secara terpisah sesuai dengan kejadian-kejadian yang terjadi selama 23 tahun.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 403). Ini sudah menunjukkan keistimewaan Lailatul Qadar.
2- Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan
Allah Ta’ala berfirman,
ู„َูŠْู„َุฉُ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ ุฎَูŠْุฑٌ ู…ِู†ْ ุฃَู„ْูِ ุดَู‡ْุฑٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3). An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al Ma’arif, hal. 341). Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar. (Zaadul Masiir, 9: 191). Ini sungguh keutamaan Lailatul Qadar yang luar biasa.
3- Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan.
Allah Ta’ala berfirman,
ุฅِู†َّุง ุฃَู†ْุฒَู„ْู†َุงู‡ُ ูِูŠ ู„َูŠْู„َุฉٍ ู…ُุจَุงุฑَูƒَุฉٍ ุฅِู†َّุง ูƒُู†َّุง ู…ُู†ْุฐِุฑِูŠู†َ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3). Malam penuh berkah ini adalah malam ‘lailatul qadar’ dan ini sudah menunjukkan keistimewaan malam tersebut, apalagi dirinci dengan point-point selanjutnya.
4- Malaikat dan juga Ar Ruuh -yaitu malaikat Jibril- turun pada Lailatul Qadar.
Keistimewaan Lailatul Qadar ditandai pula dengan turunnya malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
ุชَู†َุฒَّู„ُ ุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ูˆَุงู„ุฑُّูˆุญُ ูِูŠู‡َุง
“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)
Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya barokah (berkah) pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407)
Malaikat Jibril disebut “Ar Ruuh” dan dispesialkan dalam ayat karena menunjukkan kemuliaan (keutamaan) malaikat tersebut.
5- Lailatul Qadar disifati dengan ‘salaam’
Yang dimaksud ‘salaam’ dalam ayat,
ุณَู„َุงู…ٌ ู‡ِูŠَ ุญَุชَّู‰ ู…َุทْู„َุนِ ุงู„ْูَุฌْุฑ
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5) yaitu malam tersebut penuh keselamatan di mana setan tidak dapat berbuat apa-apa di malam tersebut baik berbuat jelek atau mengganggu yang lain. Demikianlah kata Mujahid (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 14: 407). Juga dapat berarti bahwa malam tersebut, banyak yang selamat dari hukuman dan siksa karena mereka melakukan ketaatan pada Allah (pada malam tersebut). Sungguh hal ini menunjukkan keutamaan luar biasa dari Lailatul Qadar.
6- Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan
Allah Ta’ala berfirman,
ูِูŠู‡َุง ูŠُูْุฑَู‚ُ ูƒُู„ُّ ุฃَู…ْุฑٍ ุญَูƒِูŠู…ٍ
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (QS. Ad Dukhan: 4). Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya (12: 334-335) menerangkan bahwa pada Lailatul Qadar akan dirinci di Lauhul Mahfuzh mengenai penulisan takdir dalam setahun, juga akan dicatat ajal dan rizki. Dan juga akan dicatat segala sesuatu hingga akhir dalam setahun. Demikian diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, Abu Malik, Mujahid, Adh Dhohak dan ulama salaf lainnya.
Namun perlu dicatat -sebagaimana keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah­ dalam Syarh Muslim (8: 57)– bahwa catatan takdir tahunan tersebut tentu saja didahului oleh ilmu dan penulisan Allah. Takdir ini nantinya akan ditampakkan pada malikat dan ia akan mengetahui yang akan terjadi, lalu ia akan melakukan tugas yang diperintahkan untuknya.
7-Dosa setiap orang yang menghidupkan malam ‘Lailatul Qadar’ akan diampuni oleh Allah
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
ู…َู†ْ ู‚َุงู…َ ู„َูŠْู„َุฉَ ุงู„ْู‚َุฏْุฑِ ุฅِูŠู…َุงู†ًุง ูˆَุงุญْุชِุณَุงุจًุง ุบُูِุฑَ ู„َู‡ُ ู…َุง ุชَู‚َุฏَّู…َ ู…ِู†ْ ุฐَู†ْุจِู‡ِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan bahwa yang dimaksud ‘iimaanan’ (karena iman) adalah membenarkan janji Allah yaitu pahala yang diberikan (bagi orang yang menghidupkan malam tersebut). Sedangkan ‘ihtisaaban’ bermakna mengharap pahala (dari sisi Allah), bukan karena mengharap lainnya yaitu contohnya berbuat riya’. (Lihat Fathul Bari, 4: 251)[1]
Ya Allah, mudahkanlah kami meraih keistimewaan Lailatul Qadar dengan bisa mengisi hari-hari terakhir kami di bulan Ramadhan dengan amalan sholih.
Aamin Yaa Mujibas Saa-ilin.

Sumber gambar : beritaislam88

Kamis, 15 Juni 2017

MALAM KE 21 PELUANG LAILATU AL-QADRI

Olen : Samsul Basri, SSi, MEI

Alhamdulillah kaum Muslimin dengan izin Allah berada di hari ke dua puluh ramadhan. Dan segera masuk sepuluh hari terakhir ramadhan yang di dalamnya banyak kebaikan dan pahala, keutamaan dan kekhususan. Di antara keistimewaan sepuluh hari terakhir ramadhan, adalah kesungguhan dan kegigihan Nabi saw dalam beramal di hari-hari tersebut melebihi hari-hari sebelum ataupun sesudahnya.
Dalam banyak hadist disebutkan kondisi Nabi saw di sepuluh hari terakhir ramadhan,
ูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠุฌุชู‡ุฏ ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ุง ู„ุงูŠุฌุชู‡ุฏ ููŠ ุบูŠุฑู‡
Pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya. (HR. Muslim. No. 2009)
Dalam sahih Bukhari dan Muslim disebutkan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadhan), mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dengan ber'ibadah dan membangunkan keluarga Beliau. (HR. Bukhari. No. 1884)
Dalam musnad Imam Ahmad bin Hanbal, disebutkan bahwa pada dua puluh hari pertama (dari bulan ramadhan) Nabi Shallallahu'alaihiwasallam menyatukan antara tidur dan shalat. Dan apabila telah memasuki sepuluh (terakhir) beliau bersungguh-bersungguh, dan mengencangkan sarungnya.", (HR. Ahmad. No. 23254)
Perhatian Nabi saw ini sudah cukup menunjukkan keutamaan sepuluh hari terakhir ramadhan, karena adanya kesungguhan beliau saw yang besar terhadapnya. Syaikh Shalih al-Utsaimin dalam al-Majaalis fii syahri Ramadhan menyebutkan bahwa kesungguhan Nabi di sepuluh terakhir itu mencakup semua jenis ibadah, shalat malam, bacaan al-Qur'an, dzikir, doa, sedekah, dan amalan-amalan lainnya yang dicintai dan diridhai oleh Allah Azza Wa Jalla. Dan karena itulah beliau beri'tikaf dan mensyariatkan kaum muslimin dan muslimat i'tikaf di rumah-rumah Allah dalam rangka fokus ibadah kepada Allah.
Kesungguhan dan perhatian besar untuk ibadah di sepuluh terakhir ramadhan juga dalam rangka meraih dan mendapatkan keutamaan satu malam yang sangat agung nan mulia yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu malam lailatu al-Qadri. Diantara wasiat Nabi mengenai hal ini,
ุชุญุฑูˆุง ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ููŠ ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู†
Carilah lailatu al-qadri di sepuluh hari terakhir ramadhan.(HR. Bukhari. No. 1880)
Dan lebih khusus lagi di malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir itu, yaitu malam ke 21, 23, 25, 27 dan atau ke 29. Sebagaimana hadits berikut,
ุชุญุฑูˆุง ู„ูŠู„ุฉ ุงู„ู‚ุฏุฑ ููŠ ุงู„ูˆุชุฑ ู…ู† ุงู„ุนุดุฑ ุงู„ุฃูˆุงุฎุฑ ู…ู† ุฑู…ุถุงู†
Carilah lailatu al-Qadri di malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir ramadhan. (HR. Bukhari. No. 2017)
Insyaallah malam ini di bumi Indonesia adalah malam ganjil, malam ke 21 ramadhan, malam berpeluang turun lailatu al-qadri. Siapkan diri untuk meraup banyak pahala di malam ini. Lailatu al-qadri jika turun dimulai sejak adzan maghrib berkumandang hingga adzan subuh bersahutan.
Ya Allah berilah kekuatan dan kemudahan untuk mengisi malam-malam kami di sepuluh terakhir ramadhan dalam ketaatan dan pengabdian kepada-Mu. Karuniakanlah kami keberkahan lailatu al-qadri. Dan ampunkanlah untuk kami dosa-dosa kami. "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbu al-'afwa fa'fuannaa"

Sumber gambar : instragram


Rabu, 14 Juni 2017

Kini Ramadhanku di Penghujung Senja

Sahabat .....

Tak lama lagi kita akan berpisah dengan bulan Ramadhan..

Laksana bahtera, perlahan ia mulai mengangkat jangkar dan siap untuk berlayar..

Sebelas bulan lamanya dia akan meninggalkan kita, untuk kemudian berlabuh kembali di hati-hati orang-orang yang beriman pada tahun berikutnya.

Ibarat sang surya, perlahan ia mulai tenggelam bersama megah merah di ujung ufuk.
Semua begitu cepat..
Hangatnya dekapan kedatangannya belum juga hilang, kini ia kembali mendekap untuk pergi.

Tapi yang jelas dia masih di sini. Dia belum berlayar ataupun tenggelam..

Untukmu yang selama ini telah mengisi hari-harinya dengan beragam
kebaikan ,maka sempurnakan amalanmu di sisa waktu yang ada. Namun bila sebaliknya,
maka perbaikilah amalanmu sebelum ia benar-benar pergi berlalu.

Ingatlah.!!
Bahwa amalan itu dinilai pada akhirnya.Bila engkau kehilangan awal ramadhan,maka jangan sampai engkau
kehilangan akhirnya.
Bila engkau lalai pada awalnya, maka kini masanya untuk
bersungguh-sungguh

Suatu kali Fudhail bin Iyadh pernah bertemu dengan seseorang.

Beliau lantas bertanya padanya:

“Berapa umur anda?”.

“Enam puluh tahun“, jawab laki-laki itu.

“Kalau begitu sejak enam puluh tahun yang lalu anda sudah berjalan menuju Allah, dan perjalananmu hampir saja tiba.“

“Innรข lillรขhi wa innรข ilaihi rรขji’รปn“, ujar lelaki itu.

“Apakah anda tahu maknanya?” Tanya Fudhail.

Lelaki itu menjawab: “Ya, saya tahu. Saya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya saya akan kembali.“

Fudhail lalumenasehati nya:

๏ปณ๏บŽ ๏บƒ๏บง๏ปฒ، ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏บฎ๏ป‘ ๏บƒ๏ปง๏ปช ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ป‹๏บ’๏บช، ๏ปญุฃู†ู‡ ๏บ‡๏ปŸ๏ปด๏ปช ๏บญ๏บ๏บŸ๏ปŠ، ๏ป“๏ป ๏ปด๏ปŒ๏ป ๏ปข ๏บƒ๏ปง๏ปช ๏ปฃ๏ปฎ๏ป—๏ปฎ๏ป‘ ๏บ‘๏ปด๏ปฆ ๏ปณ๏บช๏ปณ๏ปช، ๏ป“๏ป ๏ปด๏ปŒ๏ป ๏ปข ๏บ๏ปง๏ปช ๏ปฃ๏บด๏บŒ๏ปฎ๏ป، ูˆ๏ปฃ๏ปฆ ๏ป‹๏ป ๏ปข ๏บƒ๏ปง๏ปช ู…ุณุฆูˆู„ ๏ป“๏ป ๏ปด๏ปŒ๏บช ๏ปŸ๏ป ๏บด๏บ†๏บ๏ป ๏บŸ๏ปฎ๏บ๏บ‘๏บŽ”

“Wahai saudaraku…
Barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah dan hanya kepada-Nya ia kembali, hendaknya dia juga menyadari bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya dan akan ditanya (oleh-Nya). Dan barangsiapa yang menyadari bahwa dirinya akan ditanya maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.“

Laki-laki itu pun menangis lantas bertanya kepada Fudhail:

“Lalu apa yang harus aku perbuat?“

“Mudah“, jawab Fudhail.

“Apa? Semoga Allah merahmatimu.” Tanya laki-laki itu lagi.

Fudhail menjawab,“

๏บ—ُ๏บค๏บด๏ปฆ ๏ป“๏ปด๏ปค๏บŽ ุจู‚ูŠ، ๏ปณ๏ป๏ป”๏บฎ ๏บ๏ปŸ๏ป ๏ปช ๏ปŸ๏ปš ๏ปฃ๏บŽ๏ป—๏บช ๏ปฃ๏ป€๏ปฐ ๏ปญ๏ปฃ๏บŽ ุจู‚ูŠ، ๏ป“๏บˆ๏ปง๏ปš ๏บ‡๏ปฅ ๏บƒ๏บณ๏บ„๏บ• ๏ป“๏ปด๏ปค๏บŽ ุจู‚ูŠ ๏บƒُ๏บง๏บฌ๏บ• ๏บ‘๏ปค๏บŽ ๏ปฃ๏ป€๏ปฐ ๏ปญ๏ปฃ๏บŽ ุจู‚ูŠ

“Berbuat baiklah di sisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni apa yang telah lalu dan yang masih tersisa dari umurmu. Namun bila engkau berbuat keburukan pada apa yang masih tersisa niscaya engkau akan dihukum atas apa-apa yang telah lalu dan yang masih tersisa darimu.”

Sekali lagi….

Senja belum berlalu…

Jangkar bahtera juga belum lagi terangkat…

Apa yang kau tunggu…?

Bergegaslah…

Lepaskanlah kepergian tamu yang mulia ini dengan amalan terbaik, agar imanmu bersemi sepanjang tahun. Hingga ia kembali dan melabuhkan hikmahnya di hatimu pada tahun yang akan datang…

Sungguh kerugian yang besar bila Ramadhan berlalu dan kita tidak termasuk hamba yang diampuni.

Rasulullaah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ุฑุบู… ุฃู†ู ุฑุฌู„ ุฐูƒุฑุช ุนู†ุฏู‡ ูู„ู… ูŠุตู„ّ ุนู„ูŠّ , ูˆุฑุบู… ุฃู†ู ุฑุฌู„ ุฏุฎู„ ุนู„ูŠู‡ ุฑู…ุถุงู† ุซู€ู…ّ ุงู†ุณู„ุฎ ู‚ุจู„ ุฃู† ูŠุบูุฑู„ู‡ , ูˆุฑุบู… ุฃู†ู ุฑุฌู„ ุฃุฏุฑูƒ ุนู†ุฏู‡ ุฃุจูˆุงู‡ ุงู„ูƒุจุฑ ูู„ู… ูŠุฏุฎู„ ุงู„ุฌู†ّุฉ

“Celakalah seseorang yang bila namaku disebut disisinya namun ia tidak membaca shalawat untukku,

Celakalah seseorang yang menemui bulan Ramadhan kemudian meninggalkannya namun ia belum diampuni.

Dan celakalah seseorang yang mendapati kedua orangtuanya telah menginjak usia lanjut lalu tidak menyebabkannya masuk surga.”(HR. at-Tirmidzi & Ahmad)

Bangkitlah saudaraku….

Masih ingat dengan lagu maher zain 

Ramadhan (Indonesian Version) Maher Zain

 Ku menantimu saban waktu bangkit jiwaku

Kau suluh hatiku dengan sinar kudus kasihmu

Kuharapkan terus bersamamu selamanya

Ramadan... Ramadan...

Ramadan di hati...

Ramadan... Ramadan...

Kumohon usah pergi

Rahmat melimpah damainya kurasakan

Ramadan bulan Al-Quran

Mendidik jiwaku menyuburkan iman

Kuharapkan terus bersamamu selamanya

Ramadan... Ramadan...

Ramadan di hati...

Ramadan... Ramadan...

Kumohon usah pergi

Sememangnya kau kunantikan

Hadirmu hidupkan suram di jiwaku

Dan ku berjanji akan kuteruskan

Semangatmu itu sepanjang hidupku

Oh...Ramadan

Ramadan... Ramadan...

Ramadan di hati...

Ramadan... Ramadan...

Kumohon usah pergi....

Selagi masih di ujung senja…….
___________________
Gorontalo, 23 Ramadhan 1435H
Repost:
Makkah 22 Ramadhan 1437 H
ACT El-Gharantaly.


10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan Bersama Rasulullah SAW

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam,Yang memuliakan orang-orang yang ta’at,yang mengampuni dosa orang-orang yang bertaubat.

Shalawat dan salam atas Imam orang-orang yang bertaqwa dan sebaik-baik ahli ‘ibadah, Muhammad n, wa ba’du: Allah telah memuliakan umat ini dan memberikan karunia kepadanya dengan mendatangkan musim-musim yang penuh dengan kebaikan,pahala yang berlipat di dalamnya, yang mampu menyentuh hal serta mendorong manusia berbondong-bondong menyongsongnya untuk melakukan amal yang sesuai dengan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala.Oleh karena itu, orang yang hatinya hidup dalam menyongsong panggilan Allah dan memiliki semangat yang tinggi akan berusaha sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk mendapatkan keridhaan Allah dan mendekatkan diri kepadaNya; dan ini merupakan bekal yang amat mulia. Allah berfirman (artinya“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,[88]. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati Yang bersih.“[89] {Q.S.asy-Syu’arรข`:88-89}. 

Rasulullah n, bersabda, “Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad.” (HR Muslim)

Berikut ini ulasan ringkas tentang beberapa petunjuk Nabi saw, berkenaan dengan aktivitas beliau pada sepuluh
terakhir dari bulan Ramadhan:

1. Beliau n, Bersungguh-sungguh Di Dalam Beribadah
Nabi Saw, menambah frekuensi ibadahnya pada al-‘Asyrul Awaakhir(sepuluh hari terakhir) di bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh di dalamnya.Dan hal seperti ini tidak pernah dilakukannya pada selain hari-hari tersebut. Seluruh hari-harinya di habiskannya untuk beribadah,berseah diri dan berzikir. Dalam hal ini, isteri beliau; ummul Mukminin, ‘Aisyah
Ra, menjelaskan, “Rasulullah saw, sangat bersungguh-sungguh pada al-‘Asyrul Awaakhir, sesuatu yang tidak beliau lakukan pada selain hari-hari tersebut.” (HR Muslim) ‘Aisyah berkata lagi, “Bila memasuki al-‘Asyrul Awaakhir, Rasulullah saw,menghidupkan malamnya ,membangunkan keluarganya serta bersungguh-sungguh dan bergiat sekali.” (HR Muslim) 

Ali bin Abu Thalib berkata, “Bila menginjak al-‘Asyrul Awaakhir, Nabi n, benar-benar sungguh-sungguh dan
tidak meniduri isteri-isterinya.”(HR Baihaqi dan dinilai Hasan oleh penahqiq Musnad Imam Ahmad) .

2. Melakukan Qiyamul Lail (Shalat Malam) Qiyamul Lail yang dilakukan oleh beliau pada al-‘Asyrul Awaakhir ini memiliki keistimewaan tersendiri.
diantaranya:
Bahwa beliau dalam shalatnya tidak melebihi sebelas raka’at,sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra dia berkata, “Rasulullah tidak
menambah (raka’at shalatnya) baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya melebihi sebelas raka’at.” (HR al-Bukhari)
Beliau memanjangkan shalatnya tersebut (melamakan temponya), sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh ‘Aisyah ra, ketika ditanya, “Bagaimana shalat Rasulullah di bulan Ramadhan?.” Dia
menjawab, “Beliau tidak menambah (raka’at shalatnya) baik di bulan Ramadhan ataupun selainnya melebihi
sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, dan (mengenainya) jangan ditanya bagaimana indah dan panjang (lama)-nya, kemudian shalat empat raka’at lagi,dan(mengenainya) jangan ditanya bagaimana indah dan panjang (lama)-nya, kemudian shalat tiga raka’at. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah engkau tidur sebelum shalat witir?, beliau bersabda, “Wahai ‘Aisyah! Sesunguhnya kedua mataku ini tidur akan tetapi hatiku Tidak tidur.” (HR al-Bukhari)
Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh an-Nu’man bin Basyir z, dia berkata, “Kami melakukan shalat malam bersama Rasulullah n, pada bulan Ramadhan,
malam ke duapuluh tiga (dan berakhir) sampai sepertiga malam pertama, kemudian kami lakukan lagi bersama beliau malam ke duapuluh lima (dan berakhir) sampai setengah malam,kemudian kami lakukan lagi bersamanya pada malam ke duapuluh tujuh (dan berakhir) sampai kami menyangka bahwa kami tidak mendapatkan sahur karenanya.” (HR an-Nasa`iy)

3. Beliau Menyetor (Hafalan) al-Qur’an Kepada Jibril
‘alaihissalaam
Diantara hal yang menguatkannya adalah hadits Ibn
‘Abbas ra. Di dalamnya terdapat ungkapan, “…Jibril p, menemui beliau n, setiap malam di bulan Ramadhan hingga berakhirnya. Ketuka itu, Nabi saw,menyetor (hafalan) al-Qur’an kepadanya.” (HR al-Bukhari).
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Fathimah ra, disebutkan sabda beliau (artinya), “…Sesungguhnya Jibril , mengetengahkan kepadaku al-Qur’an sekali setiap tahunnya, sedangkan tahun ini berlangsung dua kali.”
(HR al-Bukhari)
Sabda beliau n, “mengetengahkan” dan perkataan Ibnu
‘Abbas , dalam riwayat yang lain: “(Jibril) membelajarkannya”; mengandung pengertian bahwa
terkadang satu dari keduanya membaca dan yang satu lagi mendengarkan, begitu pula sebaliknya.” (Lihat:
Fathul Bari, VIII, hal. 659)

4. Beliau Amat Tawadhu’ dan Menampakkan
Kezuhudan
Diantara indikasi yang menguatkannya adalah sebagai
berikut:
Mengalirnya air hujan dari atas atap masjid membasahi tempat beliau shalat. Demikian pula, kondisi
beliau yang sujud di atas tanah yang bercampur air sebagaimana yang terdapat dalam hadits yang
diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri , dia berkata,
“lalu langit menjadi mendung pada malam itu kemudian
turun hujan membasahi masjid, persis di tempat shalat
Nabi n, pada malam ke duapuluh satu. Lalu mataku memandangi Rasulullah n, dan melihatnya keluar dari shalat shubuh dalam kondisi wajahnya yang penuh dengan lumuran tanah bercampurair.” (HR.Bukhari).
Ketika Qiyamul lail, beliau melakukannya di atas
sehelai tikar, sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah ra, dia berkata, “Dulu
orang-orang melakukan shalat secara terpisah-pisah, lalu Rasulullah n, memerintahkanku agar membentangkan sehelai tikar untuknya, lalu beliau shalat diatasnya.” (HR Abu Daud, no.1374. Syaikh al-Albany berkata di dalam
Shahih Sunan Abi Daud, ‘Hasan Shahรฎh’) .
Ketika i’tikaf beliau singgah dirumah yang terbuat dari pelepah kurma. (Lihat: hadits Ibn ‘Umar, diriwayatkan oleh Ahmad.Penahqiqnya, Syaikh al-Arna`uth berkata,
‘Hadits Shahih) Sedikitnya makanan yang dimakan oleh beliau. (Lihat: hadits Dlumrah bin ‘Abdullah bin Unais dari ayahnya, Sunan Abu Daud, no.1379. Syaikh al-Albany mengomentari, ‘Hasan Shahih’)

5. Beliau Melakukan I’�kaf pada al-‘Asyrul Awaakhir
Nabi saw, beri’tikaf pada al-‘Asyrul Awaakhir dari bulan Ramadhan dan memasang tempat khusus baginya di dalam masjid seraya menyendiri untuk menghadap Rabb-Nya meskipun di tengah kesibukan beliau dengan dakwah, tarbiyah, pengajaran dan jihad. Di antara
indikasinya adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Anas z, dia berkata, “Nabi n, beri’tikaf pada
al-‘Asyrul Awaakhir dari bulan Ramadhan.” (HR at-Turmuzy, dia berkata, hadits Hasan Shahih. Hadits ini juga dinilai Shahih oleh Syaikh al-Albany dalam kitabnya Shahih as-Sunan).

6. Beliau Antusias mencari Lailatul Qadr ,Malam Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan dan Nabi saw, antusias dan secara sungguh-sungguh mencarinya dengan menambah frekuensi ibadah beliau melebihi ibadah yang beliau lakukan pada hari-hari lainnya. Di antara hal yang
menguatkannya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri z, bahwasanya Rasulullah n,
bersabda, “Sesungguhnya aku beri’�kaf pada sepuluh hari pertama untuk mencari malam ini (Lailatul Qadr), kemudian aku beri’tikaf lagi pada sepuluh pertengahan, kemudian aku didatangi dan dikatakan kepadaku, ‘sesungguhnya ia ada pada sepuluh hari terakhir (al-‘Asyrul AwAkhir).’ Barangsiapa di antara kamu yang ingin beri’itikaf, maka beri’tikaflah.!” Lalu orang-orangpun beri’tikaf bersama beliau.” (HR Muslim)

7. Beliau Tidak Lupa Memperhatikan Para isterinya
Di antara indikasinya adalah:
Pertama, beliau menganjurkan mereka agar banyak-banyak berbuat kebajikan dan amal shalih. Salah satu contohnya
adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali z, "Bahwasanya pada al-’Asyrul Awaakhir dari bulan Ramadhan Nabi saw,membangunkan keluarganya (untuk shalat malam).” (HR at-Turmuzy, dia berkata, hadits Hasan Shahih)
Kedua, beliau pernah tidak beri’tikaf Ramadhan dalam setahun untuk menjaga perasaan isteri-isteri beliau dan menghilangkan kekhawatiran akan tumbuhnya persaingan Tidak sehat di antara mereka lantaran cemburu. (HR al-Bukhari)
Ketiga, beliau mengajak mereka berbicara sekali waktu saat beliau berada di peri’tikafannya. (Shahih Bukhari, hadits no. 6219, 2038)
Keempat, beliau mengizinkan mereka beri’tikaf bersama beliau (dengan memasang tempat khusus bagi kaum wanita dalam masjid Nabawi). (Lihat: Shahih Bukhari, hadits no. 2035, 2045)

8. Beliau , Tetap Memberikan Bimbingan Agama Kepada Manusia
Nabi saw, mengarahkan manusia dan mengajak mereka
untuk mengerjakan amal shalih. Indikasinya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri z, di dalamnya
terdapat, “… Kemudian beliau bersabda, ‘Aku menghidupkan sepuluh pertama Ramadhan (dengan ibadah), kemudian telah tampak olehku agar melakukannya
lagi pada al-‘Asyrul Awakhir; barangsiapa yang ingin melakukan i’tikaf bersamaku maka hendaklah dia mantap di peri’tikafannyanya. Sesungguhnya telah diperlihatkan kepadaku (sesuatu) pada malam ini namun kemudian aku dilupakan (untuk mengingatnya); oleh karena itu, carilah ia pada sepuluh hari terakhir (al-‘Asyrul Awaakhir), dan carilah ia pada setiap tanggalnya yang ganjil.” (HR al-Bukhari)

9. Beliau n, Tetap Memberikan Fatwa Kepada Orang
Yang Memintanya
Indikasinya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh
Dhumrah bin ‘Abdullah bin Anis dari ayahnya, dia dlberkata, [didalamnya terdapat,] “Beliau bersabda (kepadanya), “sepertinya kamu punya keperluan.?” Dia
menjawab, ‘ya, sekelompok kaum dari Bani Salamah mengutusku kepadamu untuk menanyakan malam Lailatul Qadr. Beliau bersabda, “Tanggal berapakah
malam ini.?” Dia menjawab, 'duapuluh dua.’ Beliau bersabda, “Ia (malam Lailatul Qadr) ada pada malam ini.“ Kemudian dia pulang dan berkata, yakni (maksud ucapan Nabi saw, tersebut adalah-red) malam yang akan datang ini, yaitu malam kedua puluh tiga” (HR Abu Daud dan
dinilai Hasan Shahih oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya
Shahih as-Sunan).

10. Beliau n, Menempatkan Dirinya Sebagai Qudwah (Panutan) Bagi Manusia .
Di antara indikasinya:
Pertama, beliau pergi ke masjid untuk melakukan shalat malam bersama orang-orang, sebagaimana dalam hadits
‘Aisyah , ‘bahwasanya Rasulullah saw, pada suatu malam keluar saat tengah malam, lalu beliau melakukan shalat di masjid,kemudian beberapa orang mengikutishalat beliau…” (HR Bukhari)
Kedua, beliau i’tikaf untuk mencari dengan sungguh-sungguh
Lailatul Qadr dan mengajak manusia untuk melakukan hal itu. (Lihat: Shahih Muslim, hadits no. 1167)

11. Kasih Sayang Beliau n, Terhadap Umatnya
Di antara yang menguatkan hal itu adalah:
Pertama, beliau melarang para shahabatnya untuk melakukan puasa wishal (terus menerus tiap hari) sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada mereka. Dalam hal ini, terdapat hadits yang diriwayatkan oleh 'Aisyah , dia berkata, “Rasulullah n, melarang
Wishal (puasa terus menerus tiap hari) karena kasih sayang beliau terhadap mereka. Lantas mereka berkata,
‘Akan tetapi engkau melakukan wishal.?‘ Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak seperti (kondisi) kalian ;sesungguhnya aku diberi makan oleh Rabb-ku.” Dan ketika ada sebagian mereka yang ngotot untuk melakukan itu, beliau n, memberikan peringatan dan mencela tindakan mereka tersebut namun ketika sebagian lagi tak mempan dengan peringatan melalui kata-kata, beliau memberikan mereka sanksi dan hal ini beliau lakukan semata-mata karena takut nantinya akan menyusahkan diri mereka sendiri. (Lihat: Shahih Bukhari, hadits no. 1964 dan Shahih Muslim, hadits no.1105,
1104)
Kedua, beliau tidak shalat malam bersama para shahabatnya secara jama’ah karena khawatir nantinya
hal itu akan diwajibkan terhadap mereka. (Lihat: Shahih
Bukhari, hadits no. 1129)
12. Perintah Beliau n, Agar Orang-Orang Mengeluarkan
Zakat Fithrah
Indikasinya adalah hadits yang diriwayatkan oleh
‘Abdullah bin Tsa’labah z, dia berkata, “Rasulullah n, telah berkhuthbah di hadapan manusia sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Iedul Fithri, lalu bersabda, "Keluarkanlah satu sha’ burr atau qamh (keduanya merupakan jenis gandum) antara dua orang atau satu sha’ kurma atau satu sha’ sya’ir (sejenis gandum juga) untuk setip orang; kecil maupun tua.” (HR Abu Daud
dan ‘Abdurrazzaq –lafazh hadits ini berasal darinya;
dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Sumber gambar : google


Kamis, 01 Juni 2017

Kenalkanlah Anak kita dengan Masjid

TAWA "MALAIKAT" DI MASJID


Sering Terjadi Waktu Mau Sholat, Anak-Anak Kecil di Suruh Keluar dari Masjid, Alasannya Takut Mengganggu Sholat, Banyak Pengurus Masjid Yang tidak Sabar Menghadapi Anak-Anak Kecil Yang Lalu Lalang Keberada'annya di Masjid, Tidak Sedikit diantara Mereka Mengusir Anak Kecil Keluar dari Masjid, atau Menempatkan di Shaf Paling Belakang agar tidak Mengganggu Jama'ah Yang Lain...

Jangan Membuat Anak-Anak kecil "BINGUNG",
Anak-Anak Kecil Waktu Mengaji Selalu di Nasehati Oleh Ustadznya : Kalau Sudah dengar Adzan dimasjid, Maka Harus Sholat dimasjid.

Dan Nabi Muhammad SAW Justru Berinteraksi dengan Anak-Anak disa'at Sholat di Masjid...

Berikut ini ada Cerita yang bisa dijadikan Pelajaran Untuk kita, Yang ditangani Oleh Rosululloh SAW,

Diriwayatkan Oleh Sahabat Nabi yang Bernama Yaddad ra :
Suatu ketika Nabi datang ke Masjid Untuk Melaksanakan Sholat dan Nabi Membawa Cucunya, Hasan dan Husein,
Lalu Nabi Meletakkan Cucunya disampingnya, Kemudian Nabi Mengangkat Takbirotul ihrom Memulai Sholat, Pada Sa'at Nabi Sujud, Sujudnya Nabi Sangat Lama sekali tidak Seperti biasanya, Maka Saya diam-diam Mengangkat Kepala Saya Untuk Melihat Apa Gerangan yang terjadi, dan benar saja, Saya Melihat Cucu Nabi sedang Menunggangi Punggung Nabi yang sedang Bersujud, Setelah Melihat Kejadian itu Saya Kembali Sujud Bersama Makmum yang Lainnya, Ketika Selesai Sholat Para Sahabat sibuk Bertanya Pada Rosululloh : "Wahai Rosululloh, Baginda Sujud sangat lama sekali, Sehingga kami Sempat mengira terjadi apa-apa atau Baginda sedang menerima Wahyu"...
Baginda Rosul Menjawab : "Tidak, Tidak, Tidak Terjadi apa-apa, Cuma tadi Cucuku Menaiki tubuhku, dan saya tidak mau Memburu-burunya sampai dia Menyelesaikan mainnya dengan Sendirinya"
(HR.Nasa'i dan Hakim)

Jika Anak-Anak Muslim Berlari, Riang ,Ketawa di Masjid yaitu lah Ciri khas Anak-Anak, ingatkanlah Mereka dengan Pelukan dan Senyuman Manis,
Sebenarnya Mereka "Malaikat" yang Sedang Bergembira di Rumah Robb-Nya,

Dalam Riwayat yg lain Rasulullah Mempercepat Sholatnya karena ada tangis anak kecil yang memanggil ibunya yg sedang ikut Sholat Berjama'ah Bersama Rasulullah,
Itulah Masjid Nabi yang tak sepi dari Anak-Anak Kecil, Maka Layak lah Para Pengurus Masjid diberi Pemahaman Tentang Masjid Sebagai Pusat Peradaban Islam...

Muahmmad Al fatih Penakluk konstantinopel Pernah Berkata : "Jika kalian tidak lagi Mendengar Riang tawa dan Gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid, Maka Waspadalah... Sa'at itu kalian dalam Bahaya."

Maka dari itu, Biasakan Anak kita Kenal dengan Masjid, Ajak Mereka Untuk Sholat di Masjid...

-Semoga Bermanfaat-

Salam Santun
Allianz Azhari


NASEHAT UNTUK LAKI-LAKI 

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Hargai istrimu kelak sebagaimana engkau menghargai ibumu , sebab istrimu juga seorang ibu dari anak_anakmu ...

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Jika marah ...
boleh tidak berbicara dengan istrimu tapi jangan bertengkar ( membentaknya , mengatainya , memukulnya ).

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Kantung rumah tangga adalah seorang istri / jika hati istrimu sedang tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka ( tidak ada canda , tawa , manja dan perhatian ) maka sayangi istrimu agar dia bahagia maka kau akan seperti disurga .

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Besar atau kecil gajimu tetap seorang istri ingin diperhatikan dengan begitu maka istrimu akan selalu menyambutmu dengan penuh kasih dan sayang .

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Dua orang yang tinggal satu atap ( menikah ) tidak perlu gengsi , bertingkah , siapa menang , siapa kalah , karena keduanya bukan untuk bertanding melainkan teman hidup selamanya .

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Diluar banyak wanita idaman dan cantik melebihi istrimu . Namun istrimulah yang mencintaimu tulus atas dasar apa yang kamu punya .

๐Ÿƒ ๐ŸŒบ Banyak istri yang baik !
Tetapi ingat diluar sana banyak pula pria yang ingin memiliki istri yang baik dan mereka tidak mendapatkannya .
Mereka akan menawarkan perlindungan terhadap istrimu maka jangan biarkan istrimu meninggalkan rumah karena kesedihan . Sebab ia akan sulit sekali untuk kembali lagi pada dirimu .

๐Ÿƒ๐ŸŒบ Ajarkan anak laki_ laki mu berlaku santun dan sopan pada ibunya sehingga kelak mereka tahu bagaimana memperlakukan istrinya .

SubhanAllah ...

๐Ÿ™๐Ÿป Yaa Robb...
Hamba memohon kabulkan do'a hambamu dan do'a saudaraku yang mengucapkan ... Aamiin ...
Semoga mendapatkan pasangan yang sholeh dan sholehah serta menjadi keluarga yang Sakinah Mawwaadah Warrohmah ...
Juga kelak dimasukkan kedalam surga yang terindah ...

Aamiin Aamiin Yaa Rabbal'Aalamiin




Tahajud Setelah Tarawih

By Ammi Nur Baits -

Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum. Pada bulan Ramadan, setelah menunaikan shalat tarawih dengan witir, bolehkah melaksanakan shalat tahajud sebelum makan sahur dan ditutup dengan witir juga? Terima kasih.

JAWABAN:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah…
At-Turmudzi dalam sunannya menyebutkan perbedaan ulama mengenai hukum orang yang sudah witir di awal malam, kemudian hendak tahajud di akhir malam.
Pertama, sebagian sahabat dan ulama generasi setelahnya berpendapat, bahwa witir di awal malam harus dibatalkan. Dengan cara, dia shalat 1 rakaat sebagai penggenap dari witir yang dia lakukan di awal malam. Selanjutnya dia bisa shalat tahajud sesuai yang dia inginkan, kemudian witir lagi di akhir malam. Kata Turmudzi, ini adalah pendapat Ishaq bin Rahuyah.
Kedua, ulama lain di kalangan para sahabat dan generasi setelahnya mengatakan, orang yang sudah witir di awal malam kemudian hendak tahajud di akhir malam, maka dia bisa langsung shalat sesuai yang dia inginkan, dan tidak perlu membatalkan witirnya. Hanya saja, dia tidak boleh witir lagi.
Ini adalah pendapat Sufyan at-Tsauri, Imam Malik, Ibnul Mubarok, Imam Syafii, ulama kufah, dan Imam Ahmad.
Kemudian Turmudzi menyimpulkan,
وهذا أصح لأنه روي من غير وجه أن النبي صلى الله عليه و سلم قد صلى بعد الوتر
Pendapat kedua lebih kuat. Karena terdapat beberapa riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shalat setelah witir. (Sunan at-Turmudzi, 2/318).
Oleh karena itu, diperbolehkan bagi orang yang sudah melaksanakan shalat tarawih untuk menambah shalat malam dengan shalat tahajud. Hanya saja, kami menyarankan dua hal:
Pertama, hendaknya ikut imam sampai selesai, dan jangan pulang sebelum imam melakukan witir. Tujuannya, agar kita mendapatkan keutamaan berupa pahala seperti shalat semalam suntuk. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis dari Abu Dzar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة
“ saja yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.” (HR. Nasai 1605, Turmudzi 811; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)
Kedua, tidak boleh melakukan witir dua kali. Jika sudah witir bersama imam maka ketika tahajud tidak boleh witir lagi. Ini berdasarkan hadis,
لَا وِتْرَانِ فِى لَيْلَةٍ
“Tidak boleh ada dua witir dalam satu malam.” (HR. Abu Daud 1441, Nasai 1679; dan disahihkan Syu’aib al-Arnauth)
Dalam Fatwa Lajnah Daimah disebutkan,
“Jika Anda shalat tarawih bersama imam maka yang lebih utama adalah melakukan witir bersama imam, agar mendapatkan pahala sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadis, ‘Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjemaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.’ (HR. Abu Daud dan Turmudzi). Jika Anda bangun di akhir malam dan ingin menambah shalat maka silakan shalat sesuai keinginan, namun tanpa witir, karena tidak ada witir dalam semalam.” (Fatwa Lajnah Daimah, 6/45).
Bagaimana Cara Mengakhiri Tarawih Bersama Imam?
Ada dua cara:

[1] Anda ikut shalat witir bersama imam sampai selesai, dan nanti tidak witir lagi.
Dr. Shaleh Al-Fauzan mengatakan, “Jika ada orang yang shalat tarawih dan shalat witir bersama imam, kemudian dia bangun malam dan melaksanakan tahajud maka itu diperbolehkan, dan dia tidak perlu mengulangi witir, tetapi cukup dengan witir yang dia laksanakan bersama imam …. Jika dia ingin mengakhirkan witir di ujung malam maka itu diperbolehkan, namun dia tidak mendapatkan keutamaan mengikuti imam. Yang paling utama adalah mengikuti imam dan witir bersama imam. Mengingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa yang ikut shalat tarawih berjamaah bersama imam sampai selesai maka untuknya itu dicatat seperti shalat semalam suntuk.’ Hendaknya dia mengikuti imam, witir bersama imam, dan jangan jadikan ini penghalang untuk bangun di akhir malam dalam rangka tahajud.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Shaleh Al-Fauzan, 1:435)

2] Ketika imam salam pada saat shalat witir, Anda berdiri dan menggenapkannya dengan satu rakaat, sehingga Anda belum dianggap melakukan witir. Kemudian, di akhir malam, Anda bisa shalat tahajud dan melakukan witir.
Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin menjelaskan,
“Apabila orang yang hendak shalat tahajud mengikuti imam dalam shalat witir maka hendaknya dia genapkan, dengan dia tambahkan satu rakaat. Ini adalah salah satu cara untuk orang yang hendak tahajud. Dia ikut imam dalam shalat witir dan dia genapkan rakaatnya dengan menambahkan satu rakaat, sehingga shalatnya yang terakhir di malam hari adalah shalat witir …. Dengan demikian, dengan cara ini, dia akan mendapatkan dua amal: mengikuti imam sampai selesai dan dia juga mendapatkan sunah menjadikan akhir shalat malam dengan shalat witir. Ini adalah satu amal yang baik.” (Syarhul Mumthi’, 4/65–66)
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)
Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi
Read more https://konsultasisyariah.com/6297-tahajud-setelah-tarawih.html
Post and pict(edited) @Rerey

www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net